Taman Safari emang pilihan yang aneh kalo menyangkut tempat pelaksanaan team building. Tapi berhubung bos besar dan wakilnya—alias Rika dan Andrew—sudah berkehendak, siapa yang berani melawan. (alasan ke-2 adalah karena males mikir tempat lain yang bisa jadi alternative, alhasil ikut mangut-mangut ajalah).
Selain karena jauh—yang berarti banyak waktu habis terbuang di perjalanan—alasan lain team building kali ini agak meragukan kemampuan mem-build tim-nya (Halah!) adalah karena member birkominfo yang ikut gak full team, alias kurang 1 ekor….ekornya Bobob.
Bobob, yang berhasil melarikan diri dengan dalih bantuin nyokapnya di toko, otomatis gak perlu menghabiskan hampir 2 jam perjalanan Depok—Bogor. Untung ada Andrew yang baik hati dan tidak sombong mau menjemput + mengantar kita dari stasiun bogor ke Taman Safari, jadi perjalanan kali ini cukup terjamin kenyamanannya. Selama ada Andrew, urusan transport, jemput-menjemput, antar-mengantar selalu bukan masalah, hhehehe..(thx a bunch drew!) :p
Sampai di taman safari, kita masih harus mengusap-usap mata pertanda baru bangun dari tidur sepanjang perjalanan (ckckck). Kegiatan pertama adalah adalah ngasih makan makhluk-makhluk penguasa jalanan di sepanjang lintasan mobil dan bus. Berkat kemurahan hati Andrew dan kemampuannya memprediksi jumlah hewan yang perlu dikasih makan (kemampuan memprediksi ato karena hafal??), tim safari birkominfo ga akan kehabisan stock wortel—4 ikat wortel seberat hampir 7 kilo ato jangan2 lebih??
Meskipun udah 5x berkunjung ke taman safari, keunikan dan kecantikan hewan-hewan di sana emang ga bikin bosen. Mulai dari rusa2 yang bibirnya manyun, llama yang bikin macet n hobi ngiler, kuda nil yang hobinya mangap-mangap, sampe orangutan yang narsis. Kita yang tadinya memprotes keras keputusan Andrew buat beli banyak wortel akhirnya mengakui emang banyak mulut yang harus dikasih makan dan ada banyak tengan yang pgn ngasih makan (ga termasuk tangannya rika). Ya emang sih, ada beberapa cuil wortel yang tidak tersalurkan secara tepat sasaran: meleset pas dilempar ke rusa-rusa pemalas yang ogah ndeketin mobil, kepotong gara2 kejepit kaca mobil sebagai respon mengusir onta yang bibirnya hampir ngilerin bajunya Fey, dan yang paling banyak terbuang gara2 meleset pas dilempar ke kudanil yang mangap2 (sorry, my bad!)


Puas ngeliatin hewan2 yang—meski agak mengecewakan—sebagian besar sedang tidur siang, kita lanjut ke agenda kedua: mengisi perut yang mulai keroncongan. Pilihan pun jatuh di Mie ayam dan mie bakso yang praktis. Sementara anak2 birkominfo sibuk menikmati mie dan bakso, mami dan papi—which is Rika n Andrew—sibuk mempersiapkan sesuatu yang mereka berdua percaya bisa membuat tim ini lebih kompak.
Belakangan kita ketahui bahwa Rika n Andrew menyembunyikan beberapa amplop berisi huruf-huruf yang tersebar di berbagai tempat di taman safari ini dan anak-anak birkominfo(dlm hal ini aku, fey, maria, dan awa), harus mencari amplop2 tersebut yang selain berisi sebuah huruf juga berisi petunjuk tentang keberadaan amplop berikutnya.
Ga butuh waktu lama buat kita ber-4 mengumpulkan 4 amplop yang disembunyikan Rika. Entah karena dia ga punya cukup waktu untuk menyembunyikan amplop dgn baik dan benar ato karena dia kasian sama anak2nya yg kdg2 rada lemot ini :p
Yang bikin lama adalah sesi ber-narsis ria dan mengamati macam2 hewan. Kita bahkan sempet foto bareng Meti (orang utan berusia 6 tahun yang kemudian kita anggap sebagai pengganti Bob biar birkominfo keliatan lengkap 5 orang). Di lorong reptile kita juga berlama-lama: mengasihani kura2 yang berjuang membalik dirinya yang kebalik (halah!), nungguin tikus putih di comot sm ular, nyariin hewan2 yang ngumpet di pojokan, smpe mengamati hewan2 malam yang ga kliatan gr2 gelap.
Overall, perjalanan dengan niat team building ini berakhir cukup memuaskan. Paling gak sekarang kita jadi punya foto ber-5 yang cukup keren. Bob juga seharusnya ga keberatan, karena toh dia dan Meti punya beberapa kesamaan: rambut keriting dan kesamaan dri segi wajah..hhehe
*piss bob!
Masih ada lanjutanyya looo, klik disini...
Rabu, 20 April 2011
Safari Riang Gembira
Selasa, 19 April 2011
what an "Unyu" day
tadinya mau aku kasih judul "Beruntunglah Kita yang Masih Bisa Sekolah", tapi rasanya judul2 melodramatis semacam itu gak aku-banget..
jadilah judul yang rada-rada ga mengikuti kaidah bahasa yang baik dan intelek ini
Anywaay,alasan knp hari ini pantas disebut hari yang "unyuu", adalah berkat jerih payah a good friend of mine, Bella... yang—bersama teman-teman slash anak buahnya—berhasil mengadakan gathering rutin alias kumpul-kumpul kakak asuh dan adik asuh.
Para Kakak asuh adalah mahasiswa FEUI yang mau berbaik hati menyisihkan sebagian kecil uang saku mereka untuk ikut membiayai sekolah para adik asuh. Alasan dibalik kebaikan hati itu bisa bermacam-macam, misalnya terlalu banyak duit sampai ga tau lagi mau dihabisin ke mana, ikut-ikut tren, ato iseng-iseng setelah tertarik ngeliat posternya yang lucu-lucu. (yup, yang terakhir ini aku banget!)
Apapun alasannya, iseng sekalipun, kakak asuh yang udah daftar dan pernah bayar, akan terus terikat di Program Kakak Adik Asuh ini sampai semua biaya sekolah adek-adek di periode itu lunas, yang berarti terikat selama setahun penuh!
I know that may sound terrifying, tapi sebenernya ga gitu banget kok…at least mereka ga menyisihkan dana khusus buat nyewa jasa debt collector yang bisa jadi tukang nggebukin kakak asuh kalo mereka telat bayar—hal yang sangat lumrah terjadi mengingat sebagian besar mahasiswa fe sibuknya setengah hidup. Gak jarang juga ada kakak asuh yang telat bayar sampai berbulan-bulan (ehm, pengalaman pribadi :p). meski sebagai kakak asuh bersama Cuma terikat bayar 10.000 per bulan, tapi gara2 nunggak 5 bulan, yang berarti utang 50.000, kerasa berat akhirnya pas tagihan datang…so, inget2 deh buat bayar di awal bulan biar ga menggembung di belakang. (untung aja ga dikenain bunga sekalian)
Nah, hubungan dari program kakak adik asuh dan ke-unyu-an yang terjadi hari ini berawal dari acara gathering kakak dan adik asuh. Singkat cerita, adek-adek yang unyu ini harus membawa suatu prakarya bebas apapun asal buatan sendiri, untuk dikasih ke kakak-kakak asuhnya.
Ada yang bawa bunga kertas, celengan, mobil-mobilan, anyaman, dll, dst, dsb.. jadi inget masa-masa SD ku yang suram..paling benci kalo disuruh bikin prakarya.


Anyway, ada seorang adek kecil kelas 5 SD bernama Sulis (ya, Sulis kayak yang penyanyi ayu berkerudung itu. FYI, si sulis klas 5SD ini juga berkerudung..belakangan kuketahui ternyata SD mereka emg SD islam yang muridnya wajib pake krudung) yang sangat aktif mengajakku mengobrol dan menghadiahiku sebuah tempat pensil unyuu dari kaleng bekas yang pinggirnya ditempeli gambar-gambar pohon, awan, dan rumput, khas anak SD..

Dapet prakarya Unyu dari adek kecil yang unyuu, langkap sudah hariku yang unyuu :p
Sabtu, 27 November 2010
penjual donat dan penjual koran
Alkisah suatu hari seorang penjual donat dan seorang penjual Koran bertemu di dalam sebuah bis berwarna kuning, kemudian si penjual donat di dalam hatinya membandingkan perbedaan antara berjualan donat dan berjualan Koran:
| Penjual donat | Penjual Koran |
| Mahasiswi S1 FEUI | Murid volkschool yang sempat putus sekolah dan harus kejar paket |
| Tujuan berjualan: entah untuk mendanai suatu acara atau hanya ingin tau rasanya berjualan donat | Tujuan berjualan: kemungkinan besar untuk menyambung hidup |
| Kalau donat tidak habis bisa dibeli sendiri toh tujuan utama bukan untuk menyambung hidup | Kalau Koran tidak habis ternyata kadang2 tidak boleh dikembalikan |
| Lingkup berjualan: yaa, cukup di FE aja, males sih jalan jauh2 | Lingkup berjualan: berputar-putar kampus UI karena Koran harus habis |
Selasa, 23 November 2010
The Conversation
Ini adalah percakapan yang terjadi di suatu sore yang mendung, antara seorang volunteer teacher dan anak didiknya dalam perjalanan mereka pulang:
Si kakak: gimana tadi kuis IPAnya? Susah ga?
Anak1: lumayan kak, ada yang susah
Anak1: Kak, tiga macam wujud benda apa ya kak?
Si kakak: (bepikir dalam hati. Apaan ya?? Kyaknya dulu aku pernah tau deh?! Mampus ni kalo ga bisa jawab).
Anak2: padat, cair, gas bukan kak?
Si kakak: iya iya btul itu dia!
Anak2: horee, aku beneer!
Si kakak: (fiuh!)
Anak1: kak kalo aku jawabnya mencair, membeku, menyublim? Salah ya kak?
Si kakak: waah, itu kan macam perubahan bentuknya
Anak3: kalo es, air, sama uap air kak?
Si kakak: tergantung yang meriksa sih, kalo aku, yaa dpt setengah lah, ga salah2 amat. (berasa dosen aja nih)
Anak1: kalo gambar kaki tadi kaki elang kan kak?
Si kakak: iya iya itu kaki elang
Anak1,2,3: horee beneer!!
Si kakak: (baguuuus!)
Anak4: bukaaan, itu kaki rajawali!
Si kakak: (mampuuus! Emang ada pilihan rajawalinya ya? Emang apa bedanya kaki rajawali sama elang?? )
Anak3: eh! Emang kamu pengajarnya?? Kata kakaknya elang kook!
Si kakak: jadi ada pilihan rajawali???
Zzzzz….
Setelah beberapa percakapan ga jelas dengan banyak pertanyaan yang di jawab oleh si kakak secara menyesatkan, ngawur, dan amburadul….
Anak1: kak, fakultas paling bagus di sini apa sih kak?
Si kakak: FE, fakultas ekonomi. Kalo kamu tanya ke aku ya ku jawab fe, kalo tanya anak FK ya mereka jawab FK, hhahaha.
Anak1: (Zzzzz…)
Demikianlah percakapan yang telah meruntuhkan kredibilitas si kakak sebagai pengajar =_______=
Senin, 22 November 2010
harap-harap cemas
lagi-lagi, lagi nongkrong di selasar...
menanti saat-saat gitarku tibaa, hhihi
padahal udah berharap bgt dateng hari sabtu kmaren, eee, ternyata ditunggu-tunggu ga dtg juga..
pas cek online buat cari tau nyangkut dimana kah gerangan gitarku tersayang,,
ga taunya "online tracking" mereka hanya kedok belaka (ato kira2 begitulah menurut mas yuko)
zzzzz.....
meskipun amat sangat berharap gitarku cepet dtg, tapi cemas juga ni
pasalnya, gitar pasti di packing dengan amat sangat baik supaya ga rusak di jalan,
nah, kabarnya, gitarku dipacking dengan peti kayu,
ntar gimana dong aku buka peti kayunya??
ato lebih parah lagi ke pak tukang yang lagi bangun gedung A, OMG!
belum lagi ada kemungkinan dimarahin pak TU,
entahlah, menurut feelingku pak TU bakal marah aja =.=
udah gitu masalah sampah..
ntar peti kayunya mau dibuang dimana dong??
masa mau kusimpen di dlm kamar?
makin sempit aja kamarku jadinya..
meskipun terbayang-bayang sekian banyak masalah yang akan muncul begitu gitarku sampai, ttep aja kebayang-bayang juga senengnyaaa
moga2 semua masalah tadi teratasi dengan lancar jaya dan aku bisa gitaran dengan aman dan damai....
amiiin
Sabtu, 20 November 2010
what a suck sat-nite
Seriously, it’s sat-nite and I’m sitting here in my room, studying.
Kamis, 18 November 2010
How to Survive Two and a Half Hours ‘Pengantar Bisnis’ with Bp. Suroso without Falling Asleep
Gee, another long title. Hhaha. But, ini adalah fakta yang kukumpulkan mengenai hal-hal yang dilakukan anak-anak di kelas selama jam Pengbisnya Pak Suroso selain tidur.
1. Pay a good attention.
2. Kerjain tugas mindmap di kelas.
3. SMSan.
4. Baca Novel. Berkat perkembangan teknologi, sekarang E-book bisa di transfer masuk HP dan dibaca kapanpun tanpa perlu berat-berat bawa novel yang tebel. Kalopun ga ada E-booknya bawa aja novelnya trus baca di kelas. Gapapalah berat2 dikit daripada mata yang berat.
5. Ngelamun. Cara yang cukup berbahaya (takutnya ntar ada yang iseng2 masukin kan gawat!), tapi nyatanya ada juga yang menghabiskan sebagian besar waktu Pengbis dengan ngelamun.
6. Makan permen. Sayangnya, permen Cuma tahan beberapa menit aja di mulut. So, sebelum masuk kelas pastikan udah bawa 1 kresek permen biar ga ngantuk.
7. Gambar-gambar. Biar agak produktif boleh juga gambar2 komik ato desain poster. Tapi kalo dari bayi udah ga bakat nggambar—macam saya ini—terpaksa puas dengan gambar benang ruwet, labirin, ato bunga2 ala anak TK buat jadi pengusir kantuk.
Rabu, 17 November 2010
Eat, Shop, and Teach
Ini ni rangkuman kegiatanku hari selasa yang ga sempet kuabadikan. Sayang ga ada kamera—kamera HP ilang se-HP-nya, digicam lagi dibwa bapak—buat ngambil foto2 kmaren.
Jadi begini penjelasannya…
Eat—semua berawal dari janji traktirannya si Kong klo dia dapet A di UTS pengantar Akun. Masih inget waktu dia ngatain aku kampret gara2 dapet 80? Maka Kong super duper kampret sekali karena dia sendiri ternyata dapet 95. Menuntut adanya keadilan—ato minimal bagi2 kebahagiaan—janji Kong buat traktiran pun kutagih. Akhirnya Selasa kemarin tercapailah cita2 mentraktirku di Solaria Margo City. Sesampainya di sana, kita langsung pesen makanan n minuman. Hebatnya, di Solaria yang makanannya porsi besar dan orang2 sering ga habis kalo makan, Kong memutuskan buat pesen 3 makanan. Yes, it was only the two of us but we order 3 kinds of food. Mungkin si waitress nya juga bertanya-tanya dalam hati perut macam apa yang kita bawa2 ini. Tamu-tamu yang lain datang dan pergi silih berganti, tapi aku sama kiki tetap di situ berusaha keras menghabiskan nasi goreng teri medan (makanan kedua setelah menghabiskan spaghetti). Menyerah, setelah nasgor habis dilahap, Lo Mie yang udah menunggu buat ronde 3 terpaksa dibungkus buat dimakan nanti.
Shop—keluar dari Solaria dengan energy fully charged—setengah kekenyangan juga sih—aku sama Kong jalan2 cuci mata. Oia, dia juga lagi butuh sepatu baru jadi kita puter2 cari sepatu. Pilihannya di antara 3, Airwalk 229.000, NorthStar 129.000, ato Converse 399.000 alias empatratusribuu. Jangan ditanya, Converse harus diakui amat sangat nyaman sekali dipakai dibandingin yang lain. Setelah berbagai pertimbangan panjang, akhirnya diputuskan buat beli North Star yang modelnya unik n lumayan enak. Pas mau dibeli, ternyata stock barang itu lagi habis; tinggal satu yaitu yang ada di display. Meskipun agak kotor tapi berhubung tinggal satu, akhirnya dibeli juga sama kong. Keluar dari took sepatu, kita langsung menuju counter jam tangan yang ada di Centro dan terpukau begitu ngeliat harganya yang J-U-T-A-A-N. maz Yuko apa ga bisa minta kado yang lebih mahal lagi sih? =______________=
Teach—sampai di Halte FKM jam 3 kurang kita diburu waktu karena harus ngajar jam 4. Padahal masih harus balik ke asrama buat ganti baju, ngambil buku, n sholat. Jam 4 kurang seperempt, bikun yang berangkat ternyata adalah bikun merah. Bad news! Sebagai pengajar yang baik, ga mungkin dong kita berdua telat masuk kelas, belum lagi kredibilitas sebagai pengajar bisa turun di mata peserta didik yang semuanya kelas 5 SD. Daripada telat—dan kita pasti telat kalo naik bikun merah ato nunggu bikun biru yang ga jelas kapan berangkatnya—kita memutuskan buat ttep naik bikun merah tapi alih2 turun dif e, kita bakal turun di stasiun UI. Dari situ, sisa perjalanan kita lanjutkan naik sepeda kuning. Syukurlah meski setengah lari2 kita berhasil sampe di kelas tepat waktu. Fyuh!
Syahrul : bunder, kayaknya bakat jadi drummer (ngeliat dari gayanya), aktif, inisiatif,
Yudha: kecil banget, mungkin bakat di olahraga smacam futsal, setelah ngeliatin jarinya kliatannya bakat piano, pendiam, suaranya kecil, tapi sering ikut jawab pertanyaan jg
Martha: tampak pintar meski kurang fashionable.
The Adventure
Alhamdulillaah…bersyukur karena masih ada waktu buat blogging dan berhasil pulang ke asrama dengan selamat untuk blogging :p
Ternyata ga susah2 amat kok asal mengikuti instruksinya Mas Rio, hhehe.. naik T19 ke pasar Rebo (baru tau juga ada pasar rebo, selama ini cuma sering denger pasar minggu sama pasar senen), lanjut S15A ke taman mini.
Sejatinya, buat naik T19 bisa langsung dari asrama—lewat samping kuburan tembus ke jalan raya—tapi berhubung aku ga cukup bernyali—ato setidaknya belum—buat lewat jalan kecil nan horror itu sendirian, kuputuskan buat naik angkot dari kober aja. Konsekuensinya harus bayar ojek 5rbu buat ke stasiun UI dari Asrama (ckck, next time mending lewat kuburan aja deh, meskipun horror yang penting gratisss).
Sistem pembayaran angkot di Jakarta ternyata sedikit merepotkan. Alih-alih ditetapin harga yang pasti—kayak di Malang—di sini bayar angkot harus pake perasaan. Kalo dirasa jarak yang kita tempuh lebih jauh, bayarnya harus lebih mahal dibandingkan dengan yang jaraknya lebih dekat. Alhasil bisa aja selesai bayar kita diprotes karena si supir ngerasa uangnya kurang (bener2 main perasaan nih).
Berhubung ngerasa perjalananku dari depok ke pasar rebo tadi cukup jauh—ato mungkin itu gara2 semua toko kupelototin alamatnya, berusaha mencari tau where am I??—jadi si pak supir aku bayar 3ribuu.. baik kan? :p
Turun di perempatan pasar rebo dengan selamat, langsung toleh kanan-kiri cari angkot S15. Posisiku waktu itu ga pewe pol. Deket2 lampu merah dan aku ga yakin angkot boleh berhenti di daerah itu. Intuisiku mengatakan aku harus jalan dikit trus belok kiri biar bisa nyegat angkot. Namun, di sisi lain pengalamanku mengatakan aku harus mengabaikan intuisiku. Bener aja, ternyata semua angkot arahnya lurus dan ga ada yang belok kiri. =.=
Begitu ada angkot S15 berhenti buat nurunin penumpang, aku langsung tanya supirnya,
“ke Taman Mini bang?”
“yaaa” kata si bangnya agak jutek
Setelah nunggu orang2 turun, aku bersiap naik. Baru mau naik si supir tanya lagi
“mo kmana neeng?”
“ke TMII ga bang?”
“ga mbak” yang jawab mbak2 sesama penumpang, “itu yang ada A nya” sambil bikin huruf A pake jarinya
Ups, ternyata beda to?? Habis warnanya sama siih, “Oooo…gitu, yaudah makasi ya” ternyata tadi pak supir bukan bilang ‘yaaa’ tapi ‘yaaaah’ plus ‘bukan yang ini’ dengan suara samar2.. how should I know??
Setelah menemukan S15A yang benar aku naik dengan aman dan damai. Setelah agak lama aku baru inget gatau TMII tu di mana. Akhirnya kuputuskan untuk bertanya daripada melototin alamat2 yang berlalu dengan kecepatan tinggi
“pintu 2 TMII sebelah mana bang?”
“masih jauh neng”
“masih jauh itu mbak pemberhentian terakhir” mbak2 berseragam SPG Yakult juga ikut ngasih tau.
“Ooooo… terakhir ya?” good news, artinya ga perlu melototin alamat lagi.
Sampe di taman mini dijemput Mas Rio soalnya kalo jalan masih agak jauh n kao naik angkot agak susah njelasinnya.
Quick Summary di rumah Pakdhe Ban:
1. Lagi ada potong2 kambing n sapi buat dibagi-bagi. Setelah ngeliat orang2 mbersihin perutnya Sapi, aku ga yakin sanggup makan babat lagi X(
2. Banyak sodara dari keluarganya budhe yang ngumpul, jadi lumayan rame
3. Aku dibilang cantiik, unyuuuu… >.<>


